Kepolisian, ABRI, dan badan intelejen BIA saling menyombong bahwa merekalah yang terbaik dalam menangkap penjarah yang sedang marak saat sekarang. Soeharto merasa perlu untuk melakukan tes terhadap hal ini.
Soeharto melepas seekor kelinci kedalam hutan dan ketiga kelompok pengikut tes di atas harus berusaha menangkapnya
BIA masuk ke hutan. Mereka menempatkan informan-informan di setiap pelosok hutan itu. Mereka menanyai setiap pohon, rumput, semak dan binatang di hutan itu. Tidak ada pelosok hutan yang tidak di interogasi. Setelah tiga bulan penyelidikan hutan secara menyeluruh akhirnya BIA mengambil kesimpulan bahwa kelinci tersebut ternyata tidak pernah ada.
ABRI masuk ke hutan. Setelah dua minggu kerja tanpa hasil, mereka akhirnya membakar hutan sehingga setiap mahluk hidup didalamnya terpanggang tanpa ada kekecualian. Akhirnya kelinci tersebut tertangkap juga hitam legam, mati … tentu saja.
Kepolisian masuk hutan. Dua jam kemudian, mereka keluar dari hutan sambil membawa seekor tikus putih yang telah hancur-hancuran badannya dipukuli. Tikus putih itu berteriak-teriak: “Ya … ya … saya mengaku! Saya kelinci! Saya kelinci!”
Tes Kelinci
Januari 25, 2008 · & Komentar
Kategori: soeharto
4 tanggapan so far ↓
papuapost // Januari 27, 2008 pada 5:21 pm
Wah, cerita ini memang nyata di Papua Barat. Lihat http://www.papindo.wordpress.com membahas pendapat orang Papua tentang Soeharto.
Wassalam!
dobelden // Januari 28, 2008 pada 8:37 am
walah….
jakramdiwik // Februari 2, 2008 pada 6:04 am
meski iris hati sahabat
sucikan hati dari debu
senja hilang malam berganti
menghapus duka karena lara
buang benci karna dosa
maaf kata paling indah
setelah senja
Mas Kopdang // Februari 14, 2008 pada 2:54 am
Kenapa soeharto harus dinobatkan sebagai pahlawan?
temukan jawabannya di sini:
http://kopidangdut.wordpress.com/2008/02/08/soeharto-sebaiknya-dianugerahkan-sebagai-pahlawan/